Oleh: Petricia Oktavia, Ines Heidiani Ikasari, dan Norita Sinaga

(Mahasiswi S3 Doktoral Informatika Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta)

Di era transformasi digital yang begitu masif, umat Islam sering kali dihadapkan pada tantangan sekularisme—sebuah kondisi di mana kehidupan beragama dipisahkan dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Padahal, dalam pandangan Islam yang berkemajuan, tidak ada tembok pemisah (dikotomi) antara kesalehan ritual dan kemajuan intelektual.

Melalui paradigma Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), kita diajak untuk melihat bagaimana tiga pilar utama, yaitu Tauhid, Integrasi Keilmuan, dan Kesatuan Manusia menjadi fondasi kokoh dalam membangun masyarakat digital yang berperadaban.

Tauhid: Bukan Sekadar Angka, Melainkan Pembebasan

Fondasi utama dari setiap langkah seorang Muslim adalah Tauhid. Merujuk pada QS. Al-An’am: 162, bahwa shalat, ibadah, hidup, dan mati hanyalah untuk Allah. Ayat tersebut menunjukkan bahwa seluruh aktivitas manusia, termasuk aktivitas dalam bidang teknologi dan informatika, harus bernilai ibadah. Seorang Muslim tidak boleh memisahkan antara keimanan dengan pekerjaan profesionalnya.

Dalam konteks teknologi modern, Tauhid berfungsi sebagai prinsip pembebasan (Tahrir). Tauhid membebaskan manusia dari penghambaan terhadap materi, popularitas, kekuasaan, maupun teknologi itu sendiri. Teknologi hanyalah alat, sedangkan tujuan utamanya tetap untuk menghadirkan kemanfaatan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Tauhid juga melahirkan kesadaran moral dalam profesi. Seorang programmer yang memiliki nilai tauhid akan menyadari bahwa setiap kode yang ditulis akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Kesadaran ini akan membentuk etika profesi dalam menjaga privasi pengguna, melindungi keamanan data, serta menolak membuat aplikasi yang merusak moral seperti judi online, penipuan digital, maupun penyebaran malware.

Tauhid tidak hanya berhenti di lisan, tetapi harus bertransformasi menjadi Tauhid Sosial. Sebagaimana diajarkan dalam Surah Al-Ma’un, iman seseorang dianggap mendustakan agama jika ia tidak memiliki kepedulian terhadap anak yatim dan fakir miskin. Hal ini menunjukkan bahwa keberagamaan tidak cukup hanya dalam bentuk ritual, tetapi harus diwujudkan melalui aksi sosial nyata. Inilah yang menggerakkan Muhammadiyah untuk terus melayani melalui panti asuhan, sekolah, hingga rumah sakit.

Di era digital, kepedulian sosial dapat diwujudkan melalui teknologi. Contohnya adalah hadirnya platform crowdfunding, aplikasi zakat digital, donasi online, dan sistem informasi bantuan sosial yang memudahkan masyarakat untuk berbagi secara cepat dan transparan.

Teknologi blockchain bahkan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan transparansi distribusi zakat dan donasi agar lebih terpercaya. Dengan demikian, teknologi tidak hanya menjadi alat bisnis, tetapi juga sarana memperkuat solidaritas sosial dan membantu kaum dhuafa.

Integrasi Keilmuan : Menghapus Dikotomi Ilmu dan Agama

Salah satu hambatan kemajuan umat adalah anggapan bahwa ilmu agama dan ilmu umum adalah dua hal yang berbeda. Sebagian orang menganggap bahwa ilmu agama hanya berkaitan dengan ibadah, sedangkan ilmu umum hanya berkaitan dengan dunia. Muhammadiyah secara tegas menolak dikotomi ini. Alam semesta adalah “buku terbuka” (Ayat Kauniyah) yang harus dibaca sebagaimana kita membaca Al-Qur’an (Ayat Qauliyah). Al-Qur’an disebut sebagai Ayat Qauliyah, yaitu wahyu Allah yang tertulis, sedangkan alam semesta disebut sebagai Ayat Kauniyah, yaitu tanda-tanda kekuasaan Allah yang dapat dipelajari melalui sains dan teknologi.

Dalam QS. Fussilat: 53, Allah berjanji akan memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya di segenap ufuk dan pada diri manusia. Bagi seorang mahasiswa Informatika, mempelajari algoritma, Artificial Intelligence, data science, machine learning, keamanan siber, dan pemrograman bukanhanya aktivitas akademik, melainkan bagian dari upaya memahami hukum-hukum Allah (Sunnatullah) yang berlaku di jagat digital.

Implementasi dalam Dunia Informatika

Bagaimana ketiga pilar tersebut diterjemahkan ke dalam baris-baris kode (coding)?

  1. Tauhid sebagai “Sistem Keamanan” (Etika Profesi): Seorang programmer yang bertauhid sadar bahwa setiap baris kode yang ia tulis diawasi oleh Allah (Maha Melihat). Hal ini melahirkan integritas untuk menjaga privasi data pengguna dan menolak keras membangun aplikasi yang merusak moral, seperti judi online atau penipuan.
  2. Algoritma sebagai Sunnatullah: Mengingat kembali sejarah, kata “Algoritma” berasal dari ilmuwan Muslim Al-Khawarizmi. Menggunakan kemampuan coding untuk kemudahan ibadah (seperti aplikasi kiblat atau manajemen RS) adalah bentuk nyata integrasi ilmu.
  3. Teknologi Inklusif: Berdasarkan prinsip Kesatuan Manusia (QS. Al-Hujurat: 13), teknologi harus anti-diskriminasi. Hal ini diwujudkan dengan mencegah bias pada Artificial Intelligence (AI) terhadap ras tertentu dan memastikan aksesibilitas (UI/UX) yang ramah bagi penyandang disabilitas.
  4. Teologi Al-Ma’un Digital: Modernisasi santunan kaum dhuafa melalui crowdfunding (seperti platform Lazismu) yang transparan dan cepat menggunakan teknologi blockchain.

Menghindari Dosa Jariah Digital

Teknologi adalah pisau bermata dua. Ia bisa menjadi Amal Jariah jika sistem yang kita buat membawa manfaat berkelanjutan, namun ia juga bisa menjadi Dosa Jariah jika kode yang kita ciptakan digunakan untuk kejahatan atau kemaksiatan secara terus-menerus. Teknologi pada dasarnya bersifat netral. Dampak teknologi bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya. Oleh karena itu, seorang Muslim harus mampu menjadikan teknologi sebagai sarana kemaslahatan.

Implementasi teknologi yang membawa manfaat dapat diwujudkan melalui berbagai inovasi, seperti:

  1. Aplikasi Al-Qur’an digital dan penunjuk arah kiblat.
  2. Sistem informasi rumah sakit dan pendidikan.
  3. Pemanfaatan AI untuk membantu diagnosis kesehatan.
  4. Penggunaan data science untuk memetakan wilayah kemiskinan.
  5. Pengembangan aplikasi pendidikan berbasis digital.

Sebaliknya, teknologi juga dapat menjadi sumber kerusakan apabila digunakan untuk cybercrime, penyebaran hoaks, perjudian online, eksploitasi data pribadi, hingga penyebaran konten negatif. Karena itu, seorang engineer Muslim yang bijak tidak hanya bertanya “How it works?” (bagaimana sistem ini berjalan), tetapi juga “Why it exists?” (untuk apa sistem ini diciptakan).

Kesatuan Manusia dan Teknologi Inklusif

Islam memandang seluruh manusia berasal dari sumber yang sama, yaitu Nabi Adam AS dan Hawa. Karena itu, tidak boleh ada diskriminasi berdasarkan suku, ras, warna kulit, maupun status sosial.

Dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 disebutkan:

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

Nilai kesatuan manusia ini harus diterapkan dalam pengembangan teknologi modern. Teknologi tidak boleh memperlebar kesenjangan sosial, tetapi harus menjadi jembatan yang menyatukan manusia. Salah satu tantangan besar saat ini adalah munculnya bias pada Artificial Intelligence (AI). Beberapa sistem AI terbukti menghasilkan diskriminasi terhadap kelompok tertentu karena data pelatihan yang tidak seimbang. Oleh sebab itu, pengembang teknologi harus memastikan bahwa sistem yang dibuat bersifat adil, inklusif, dan dapat diakses oleh semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas. Konsep accessibility dalam UI/UX menjadi salah satu bentuk implementasi nilai kemanusiaan dalam teknologi.

Kesimpulan

Peradaban modern tidak dapat dibangun hanya dengan kecanggihan alat atau teknologi saja, tetapi juga memerlukan fondasi moral dan spiritual yang kuat. Dengan ilmu yang dituntun oleh Tauhid memberikan arah dan nilai dalam penggunaan teknologi, integrasi keilmuan menghapus pemisahan antara agama dan sains, sedangkan kesatuan manusia memastikan bahwa teknologi digunakan untuk kemaslahatan bersama. Melalui semangat Islam Berkemajuan, mahasiswa Informatika Muhammadiyah diharapkan menjadi pelopor yang menyatukan dzikir dan fikir, menciptakan teknologi yang tidak hanya cerdas secara fungsional, tetapi juga mulia secara etika. Pada akhirnya, teknologi terbaik bukanlah teknologi yang paling canggih, melainkan teknologi yang mampu menghadirkan manfaat, keadilan, dan keberkahan bagi seluruh manusia.

Referensi:

  • Muhammadiyah.or.id: Konsep Islam Berkemajuan
  • Suara Muhammadiyah: Integrasi Ilmu dan Agama
  • Majelis Tarjih: Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah
  • Hamka: Tafsir Al-Azhar (QS. Al-Hujurat: 13)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *