
Penulis : Sopiyan Apandi, Universitas Pamulang
Di era digital, data telah menjadi unsur penting dalam kerja media massa. Hampir setiap hari publik disuguhi angka-angka: persentase kemiskinan, tingkat pengangguran, hasil survei elektabilitas, jumlah kasus penyakit, statistik pendidikan, hingga tren pengguna media sosial. Data memberi kesan objektif, akurat, dan ilmiah. Namun, pertanyaan pentingnya adalah: apakah semua data yang disajikan media benar-benar membantu masyarakat memahami realitas, atau justru hanya menjadi alat untuk memperkuat sensasi?
Media massa memiliki peran strategis dalam membentuk opini publik. Ketika data disajikan secara benar, media tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mendidik masyarakat untuk berpikir kritis. Misalnya, laporan tentang kenaikan harga kebutuhan pokok akan jauh lebih bermakna jika dilengkapi data pembanding, sumber resmi, dan penjelasan dampaknya terhadap kelompok masyarakat tertentu. Dalam konteks ini, data berfungsi sebagai jembatan antara fakta dan pemahaman publik.
Namun, persoalan muncul ketika data diperlakukan sekadar sebagai pelengkap berita, bukan sebagai dasar analisis. Tidak sedikit media yang hanya menampilkan angka secara sepintas tanpa konteks yang memadai. Persentase dipublikasikan tanpa menjelaskan jumlah sampel, grafik ditampilkan tanpa metodologi, dan hasil survei diberitakan tanpa menyinggung siapa penyelenggaranya. Akibatnya, data yang seharusnya mencerahkan justru berpotensi menyesatkan.
Lebih jauh lagi, dalam persaingan industri media yang sangat ketat, data kadang digunakan untuk memperkuat judul bombastis. Angka dipilih karena dramatis, bukan karena paling relevan. Grafik diringkas agar mudah viral, tetapi kehilangan makna utamanya. Dalam situasi seperti ini, media tidak lagi menempatkan data sebagai alat pencari kebenaran, melainkan sebagai strategi menarik perhatian pembaca. Padahal, tanggung jawab media massa bukan hanya membuat orang tertarik membaca, tetapi juga memastikan publik memperoleh informasi yang utuh dan dapat dipercaya.
Kita juga harus menyadari bahwa masyarakat saat ini hidup dalam banjir informasi. Banyak orang membaca berita secara cepat, hanya dari judul dan potongan isi. Karena itu, data yang tampil di media memiliki kekuatan besar untuk membentuk persepsi dalam waktu singkat. Jika data disajikan secara bias, parsial, atau manipulatif, maka persepsi publik pun akan terbentuk di atas landasan yang lemah. Ini berbahaya, terutama ketika menyangkut isu politik, kesehatan, ekonomi, dan pendidikan.
Di sinilah pentingnya etika penggunaan data dalam media massa. Media tidak cukup hanya mengutip angka, tetapi juga harus menjelaskan asal-usul data, metode pengumpulan, keterbatasan, dan konteksnya. Jurnalisme data seharusnya bukan sekadar menambahkan diagram atau infografik, melainkan menghadirkan berita yang lebih dalam, jernih, dan bertanggung jawab. Dengan begitu, data bukan hanya menjadi penghias berita, tetapi menjadi instrumen untuk memperkuat kualitas demokrasi dan literasi publik.
Selain media, masyarakat juga memiliki tanggung jawab. Pembaca tidak bisa lagi bersikap pasif terhadap data yang disajikan. Kita perlu membiasakan diri bertanya: dari mana data ini berasal, siapa yang mengumpulkannya, apakah ada kepentingan tertentu di balik penyajiannya, dan apakah data tersebut dibandingkan dengan sumber lain? Sikap kritis seperti ini penting agar masyarakat tidak mudah digiring oleh angka-angka yang tampak meyakinkan, tetapi sesungguhnya rapuh.
Pada akhirnya, data di media massa bukan sekadar urusan angka. Ia berkaitan dengan kepercayaan publik. Ketika media mampu mengelola data secara jujur, transparan, dan mendalam, maka media akan tetap menjadi rujukan utama masyarakat. Sebaliknya, jika data terus dipakai untuk sensasi dan kepentingan sesaat, maka yang rusak bukan hanya kualitas pemberitaan, tetapi juga kepercayaan publik terhadap media itu sendiri.
Media massa seharusnya tidak hanya cepat dalam menyampaikan data, tetapi juga tepat dalam memaknainya. Sebab di tengah arus informasi yang begitu deras, masyarakat tidak hanya membutuhkan berita yang ramai, tetapi juga penjelasan yang dapat dipercaya.