Penulis : Alfian Bayu Nur Aji, Universitas Pamulang

Dalam beberapa tahun terakhir, kecerdasan buatan (AI) telah mengambil langkah besar dalam bidang otomotif, khususnya dalam dunia balap. Dengan kemunculan driverless F1 cars, pertanyaan yang muncul adalah: apakah ini akan berpengaruh signifikan terhadap masa depan kendaraan olahraga?

Pertama-tama, mari kita lihat fakta.

A racecar with nobody at the wheel snaked around another to snatch the lead on an oval track at the Consumer Electronics Show in Las Vegas on Friday in a first-of-its-kind high-speed match between self-driving vehicles.

Members of Italian-American team PoliMOVE cheered as their Formula 1-style racecar, nicknamed ‘Minerva,’ repeatedly passed a rival entered by South Korean team Kaist.

Minerva was doing nearly 115 miles per hour when it blew past the Kaist car, easily beating the top speed hoped for by race organizers and winning the $150,000 top prize.”

(Sumber : https://en.mogaznews.com/World-News/1889570/Self-driving-Formula-1-cars-hit-115mph-during-first-ever-autonomous-race-in-Las-.html)

Kendaraan balap tanpa pengemudi ini telah mencapai kecepatan 115 mph dalam balapan otonom pertama mereka di Las Vegas. Ini menunjukkan bahwa teknologi AI sudah cukup maju untuk menangani kecepatan dan kompleksitas yang terlibat dalam balap mobil.

Namun, apakah ini berarti bahwa hari-hari balap dengan pengemudi manusia sudah berakhir? Tidak juga. Balap adalah olahraga yang tidak hanya menguji kemampuan mesin, tetapi juga keberanian, intuisi, dan keahlian pengemudi. Meskipun AI dapat mengemudikan mobil dengan presisi yang luar biasa, masih ada elemen “manusia” dalam balap yang tidak dapat digantikan oleh mesin.

Di sisi lain, AI dalam kendaraan balap menawarkan beberapa keuntungan. Misalnya, AI dapat mengurangi risiko kecelakaan yang disebabkan oleh kesalahan pengemudi. Ini juga dapat membantu dalam pengembangan teknologi keselamatan yang lebih baik untuk kendaraan konvensional.

Namun, ada juga kekhawatiran. Salah satunya adalah hilangnya pekerjaan bagi pengemudi profesional. Selain itu, ada pertanyaan tentang bagaimana emosi dan kegembiraan balap akan dipertahankan ketika mobil dikemudikan oleh AI.

Menurut sebuah artikel di PlanetF1,

“What we have done is to let it drive on the Autodrome at 50kph just to start learning, to start understanding what is around, and to start being able to plan the next section,” Enrico Natalizio – chief researcher of ARRC.

“Of course, we had to run all the tests for the safety part, for the flags, the Race Control, and all the things that are like Formula 1.

“But the thing is, once ASPIRE hands the car to the competitors to push and say, ‘OK, now it’s not 50kph anymore’, it will be able to do that. Now it’s up to you, whether you want to push more, you want to be more aggressive with the kerbs, or want to take it easy – it’s up to the competitors and the car learns.”

(Sumber : https://www.planetf1.com/news/exclusive-a2rl-driverless-f1-promising-to-revolutionise-motorsport)

Teknologi ‘fearless’ yang digunakan dalam balap tanpa pengemudi berjanji untuk merevolusi olahraga motor. Ini menunjukkan bahwa AI tidak hanya akan mengubah cara mobil balap dikemudikan, tetapi juga bagaimana balapan itu sendiri diselenggarakan.

Dalam konteks ini, masa depan balap olahraga mungkin melihat koeksistensi antara kendaraan otonom dan kendaraan yang dikemudikan manusia. Mungkin akan ada kategori balap baru yang murni untuk AI, sementara kategori lainnya tetap mempertahankan unsur manusia.

Kesimpulannya, AI pasti akan memiliki dampak besar pada dunia balap. Namun, bukan berarti ini akan menggantikan sepenuhnya pengemudi manusia. Sebaliknya, AI dapat membuka jalan bagi inovasi baru dan meningkatkan aspek keselamatan dalam olahraga motor. Yang jelas, kita akan menyaksikan evolusi yang menarik dalam dunia balap di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *