Penulis : Nilovar Asyiah
Menurut saya, hidup di era digital memang terasa sangat nyaman. Hampir semua hal bisa dilakukan lewat ponsel. Saya bisa mencari informasi dalam hitungan detik melalui Google, berkomunikasi tanpa batas lewat WhatsApp, dan menghabiskan waktu dengan menonton berbagai konten di TikTok atau Instagram. Semua serba cepat, praktis, dan efisien. Namun, semakin saya memikirkannya, semakin saya merasa bahwa kenyamanan ini tidak benar-benar gratis.
Saya percaya bahwa setiap kemudahan yang kita nikmati saat ini sebenarnya dibayar dengan data pribadi kita. Tanpa sadar, kita menyerahkan banyak informasi tentang diri kita sendiri—apa yang kita suka, apa yang kita cari, bahkan di mana kita berada. Kita sering menekan tombol “setuju” tanpa membaca syaratnya, hanya agar bisa segera menggunakan aplikasinya. Bagi saya, ini seperti menyerahkan kunci rumah kepada orang lain hanya karena ingin masuk lebih cepat.
Saya juga sering merasa aneh ketika iklan yang muncul di media sosial begitu sesuai dengan apa yang baru saja saya pikirkan atau cari. Awalnya terasa membantu, tetapi lama-kelamaan muncul pertanyaan: seberapa banyak sebenarnya aktivitas saya yang direkam? Dari situ saya menyadari bahwa di balik layar, sistem bekerja mengamati kebiasaan kita. Kita memang dimudahkan, tetapi sekaligus diawasi.
Menurut pendapat saya, masalah terbesar bukan hanya pada teknologi itu sendiri, tetapi pada kesadaran kita sebagai pengguna. Banyak dari kita merasa tidak punya pilihan. Jika tidak mengikuti aturan aplikasi, kita tidak bisa menggunakannya. Akhirnya, kita menerima saja risiko tersebut demi kenyamanan. Padahal, ketika terjadi kebocoran data, dampaknya bisa sangat merugikan.
Saya tidak menolak perkembangan teknologi. Justru saya menikmati manfaatnya. Namun saya berpendapat bahwa kita harus lebih kritis dan lebih peduli terhadap privasi. Jangan sampai kita terlalu nyaman hingga lupa bahwa identitas digital kita sama berharganya dengan identitas di dunia nyata.
Bagi saya, kenyamanan digital memang memudahkan hidup, tetapi tidak seharusnya membuat kita lengah. Jika kita tidak mulai lebih sadar sekarang, bisa jadi suatu hari nanti kita menyadari bahwa terlalu banyak bagian dari diri kita yang sudah tersebar tanpa kendali
