Raihan Akbar Mahasiswa Universitas Pamulang
Dalam era digital yang semakin agresif, Sistem Informasi Manajemen (SIM) kerap dipandang sebagai solusi universal untuk segala permasalahan organisasi. Namun, berbagai penelitian dan kasus nyata menunjukkan bahwa implementasi SIM justru dapat menjadi sumber masalah baru yang lebih kompleks dan mahal (Dwivedi et al., 2015).
Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Standish Group, sekitar 66% proyek implementasi SIM mengalami kegagalan atau tidak mencapai target yang diharapkan. Lebih mengkhawatirkan lagi, rata-rata proyek SIM mengalami pembengkakan biaya hingga 189% dari anggaran awal (The Standish Group International, 2020). Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan serius antara ekspektasi dan realitas implementasi SIM.
Masalah keamanan data menjadi concern utama yang sering diabaikan. Menurut laporan IBM Security, rata-rata kerugian akibat kebocoran data mencapai $3.86 juta per insiden (IBM Security, 2020). SIM yang seharusnya menjadi benteng pertahanan organisasi justru bisa menjadi titik lemah yang dieksploitasi oleh pihak tidak bertanggung jawab.
Fenomena “digital bureaucracy” juga menjadi kritik tajam terhadap SIM. Penelitian yang dilakukan oleh Smith dan Johnson (2019) mengungkapkan bahwa 45% waktu kerja karyawan justru habis untuk mengurus administrasi sistem, bukan untuk pekerjaan produktif. Ini menciptakan paradoks di mana sistem yang seharusnya meningkatkan efisiensi justru menciptakan lapisan birokrasi baru dalam bentuk digital.
Ketergantungan berlebihan pada SIM juga menciptakan apa yang disebut Carr (2003) sebagai “IT Doesn’t Matter” syndrome, di mana organisasi kehilangan keunggulan kompetitif mereka karena terlalu fokus pada aspek teknologi dan mengabaikan inovasi bisnis yang sesungguhnya.
Problem lain yang krusial adalah masalah kualitas data. Menurut penelitian Gartner (2021), organisasi rata-rata kehilangan $15 juta per tahun akibat kualitas data yang buruk. SIM yang canggih sekalipun tidak akan menghasilkan insight yang berguna jika input datanya tidak akurat atau tidak relevan.
Aspek human factor juga sering terabaikan. Studi yang dilakukan oleh Harvard Business Review menunjukkan bahwa 70% proyek transformasi digital gagal karena resistensi karyawan dan masalah adaptasi (Rogers, 2019). Ini menunjukkan bahwa investasi teknologi tanpa mempertimbangkan aspek human capital adalah sia-sia.
Kesimpulannya, meski SIM menawarkan berbagai potensi manfaat, implementasinya perlu dikaji ulang secara kritis. Organisasi perlu mengadopsi pendekatan yang lebih holistik dan realistis, mempertimbangkan tidak hanya aspek teknologi tetapi juga dampak sosial, ekonomi, dan psikologis dari implementasi sistem.
Referensi:
1. Carr, N. (2003). “IT Doesn’t Matter.” Harvard Business Review, 81(5), 41-49.
2. Dwivedi, Y. K., et al. (2015). “Research on information systems failures and successes: Status update and future directions.” Information Systems Frontiers, 17(1), 143-157.
3. Gartner. (2021). “Data Quality Market Survey Report.”
4. IBM Security. (2020). “Cost of a Data Breach Report 2020.”
5. Rogers, B. (2019). “Why 70% of Digital Transformations Fail.” Harvard Business Review.
6. Smith, J., & Johnson, M. (2019). “Digital Bureaucracy in Modern Organizations.” Journal of Information Systems Management, 36(2), 112-125.
7. The Standish Group International. (2020). “CHAOS Report 2020.”