BAGAIMANA AI MEMBENTUK PERILAKU KONSUMEN DI ERA DIGITAL ?

Suryaningrat, S.Kom., M.Kom.

Dosen Teknik Informatika  Fakultas Ilmu Komputer

Pernahkah kita merasa bahwa media sosial seolah-olah mengetahui apa yang sedang kita pikirkan?

Kita baru saja mencari sepatu olahraga di mesin pencari, beberapa saat kemudian iklan sepatu muncul di Instagram. Kita menonton satu video tentang kuliner, tiba-tiba beranda media sosial dipenuhi konten makanan. Kita mencari hotel untuk rencana perjalanan, kemudian berbagai platform digital mulai menawarkan tiket pesawat, penginapan, hingga destinasi wisata. Sekilas, semua itu tampak seperti kebetulan. Namun, di balik pengalaman digital tersebut terdapat teknologi yang bekerja secara terus-menerus, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Jika pada masa lalu komputer hanya menjalankan perintah yang diberikan manusia, kini komputer dapat mempelajari pola dari perilaku manusia. AI mampu menganalisis data, mengenali kebiasaan, memprediksi minat, hingga memberikan rekomendasi berdasarkan kemungkinan apa yang akan kita lakukan berikutnya.

Dengan kata lain, algoritma tidak sekadar mengetahui apa yang pernah kita lakukan. Dalam batas tertentu, algoritma berusaha memprediksi apa yang kemungkinan besar akan kita lakukan selanjutnya.

Dari Data Menjadi Pemahaman tentang Konsumen

Di era digital, hampir setiap aktivitas kita meninggalkan jejak data. Ketika membuka media sosial, kita memberikan data melalui aktivitas sederhana: konten apa yang dilihat, berapa lama video ditonton, konten mana yang disukai, akun mana yang diikuti, bahkan konten yang dilewati. Ketika berbelanja melalui marketplace, terdapat data mengenai produk yang dicari, produk yang dibandingkan, barang yang dimasukkan ke keranjang, hingga transaksi yang akhirnya dilakukan.

Data-data tersebut mungkin terlihat sederhana jika berdiri sendiri. Namun ketika dikumpulkan dalam jumlah besar dan dianalisis menggunakan teknologi AI dan machine learning, data tersebut dapat menghasilkan pola yang sangat berharga.

Misalnya, seseorang sering melihat konten olahraga pada malam hari, mencari sepatu lari, mengikuti akun komunitas olahraga, dan beberapa kali melihat produk smartwatch. Sistem dapat menyimpulkan bahwa orang tersebut memiliki ketertarikan terhadap aktivitas olahraga.

Dari sinilah muncul personalisasi. Platform digital kemudian dapat menampilkan konten, iklan, maupun rekomendasi produk yang dianggap paling relevan dengan karakteristik pengguna tersebut. Inilah salah satu kekuatan terbesar AI dalam dunia digital marketing mengubah data perilaku menjadi prediksi dan rekomendasi yang bersifat personal.

Ketika AI Mulai Memahami Kebiasaan Kita

Menariknya, AI tidak membutuhkan kita untuk mengatakan secara langsung, “Saya menyukai produk ini.”

Sistem dapat mempelajarinya dari perilaku. Kita mungkin tidak pernah menekan tombol “suka” pada sebuah produk, tetapi kita melihatnya berkali-kali. Kita mungkin tidak membeli sebuah barang, tetapi kita membaca ulasannya sampai selesai. Kita mungkin tidak mengikuti sebuah akun, tetapi hampir selalu menonton video dari akun tersebut.

Bagi manusia, tindakan-tindakan tersebut mungkin dianggap biasa. Bagi algoritma, semuanya merupakan sinyal. Setiap sinyal dapat digunakan untuk memperbarui model mengenai preferensi pengguna.

Di sinilah terjadi perubahan penting dalam hubungan antara manusia dan teknologi. Teknologi tidak lagi hanya menjadi alat yang menunggu perintah. Teknologi mulai menjadi sistem yang mengamati pola, belajar dari perilaku, dan memberikan respons yang dipersonalisasi.

Akibatnya, pengalaman digital setiap orang dapat menjadi berbeda. Dua orang yang membuka aplikasi media sosial yang sama pada waktu yang sama belum tentu melihat konten yang sama. Dua konsumen yang membuka marketplace yang sama belum tentu mendapatkan rekomendasi produk yang sama.

Mengapa?

Karena algoritma melihat mereka sebagai dua individu dengan pola perilaku yang berbeda.

Dari Membantu Memilih Menjadi Mempengaruhi Pilihan

Pada satu sisi, kemampuan AI tersebut memberikan manfaat besar.Bayangkan jika sebuah marketplace memiliki jutaan produk dan kita harus mencari semuanya satu per satu. Tentu akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Sistem rekomendasi membantu mempersempit pilihan berdasarkan kemungkinan kebutuhan kita. Begitu pula dalam media sosial. Tanpa algoritma rekomendasi, pengguna mungkin harus mencari sendiri konten yang menarik bagi mereka.

AI membuat pengalaman digital menjadi lebih cepat, praktis, dan personal. Namun, di balik manfaat tersebut terdapat sebuah pertanyaan yang lebih mendalam

Apakah AI hanya membantu kita memilih, atau secara perlahan juga mulai memengaruhi apa yang kita pilih?

Pertanyaan ini menjadi semakin penting karena rekomendasi yang diberikan algoritma tidak selalu bersifat netral. Ketika seseorang terus-menerus mendapatkan konten tertentu, kemungkinan ia akan semakin tertarik pada topik tersebut. Ketika sebuah produk terus muncul di hadapannya, kemungkinan produk itu akan semakin dikenal dan dipertimbangkan.

Dengan demikian, algoritma tidak hanya membaca perilaku konsumen. Dalam kondisi tertentu, algoritma juga dapat ikut membentuk perilaku konsumen.

Inilah paradoks besar di era digital. Kita menggunakan teknologi karena ingin mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan kebutuhan kita. Namun pada saat yang sama, sistem yang memberikan rekomendasi kepada kita juga dapat memengaruhi kebutuhan, perhatian, dan keputusan kita.

Algoritma dan Fenomena “Filter Bubble”

Salah satu fenomena yang perlu diperhatikan adalah apa yang sering disebut sebagai filter bubble. Ketika algoritma terus memberikan konten berdasarkan preferensi sebelumnya, pengguna dapat semakin sering berada dalam lingkungan informasi yang sesuai dengan minatnya. Seseorang yang menyukai teknologi akan mendapatkan semakin banyak konten teknologi. Orang yang menyukai olahraga akan mendapatkan lebih banyak konten olahraga. Konsumen yang sering melihat produk tertentu akan semakin sering mendapatkan rekomendasi produk serupa.

Dalam konteks pemasaran, kondisi ini tentu sangat menguntungkan. Perusahaan dapat menargetkan konsumen dengan lebih tepat. Anggaran pemasaran dapat digunakan secara lebih efisien. Iklan dapat ditampilkan kepada orang yang dianggap memiliki kemungkinan lebih besar untuk membeli. Namun dari perspektif konsumen, kita perlu memiliki kesadaran bahwa apa yang muncul di layar kita bukanlah representasi dari seluruh dunia digital.  Itu adalah hasil dari proses seleksi algoritma.

Apa yang kita lihat mungkin merupakan sesuatu yang memang kita sukai. Tetapi bisa juga merupakan sesuatu yang diprediksi oleh algoritma akan membuat kita tetap berada di dalam platform, terus melihat konten, atau bahkan melakukan transaksi.

Tantangan Privasi di Balik Personalisasi

Semakin cerdas sebuah sistem dalam mengenali pengguna, semakin besar pula kebutuhan terhadap data. Di sinilah persoalan privasi menjadi penting.Masyarakat sering kali menikmati kemudahan personalisasi tanpa menyadari bahwa di balik kemudahan tersebut terdapat proses pengumpulan dan pengolahan data. Kita perlu mulai memahami bahwa data digital memiliki nilai.

Informasi mengenai kebiasaan, minat, lokasi umum, preferensi produk, pola konsumsi konten, hingga interaksi digital dapat menjadi bahan untuk membangun profil perilaku konsumen.Persoalannya bukan semata-mata apakah teknologi boleh menggunakan data.

Pertanyaan yang lebih penting adalah Apakah pengguna memahami data apa yang dikumpulkan, bagaimana data tersebut digunakan, dan untuk tujuan apa data tersebut diproses?

Di sinilah literasi digital menjadi semakin penting.

Masyarakat tidak cukup hanya mampu menggunakan aplikasi. Kita juga perlu memahami bagaimana teknologi di balik aplikasi tersebut bekerja dan bagaimana teknologi tersebut dapat memengaruhi keputusan kita.

Masa Depan Konsumen: Lebih Cerdas atau Lebih Mudah Dipengaruhi?

AI akan terus berkembang. Di masa depan, sistem rekomendasi kemungkinan akan menjadi semakin akurat. AI tidak hanya memahami apa yang pernah kita beli, tetapi dapat memprediksi kebutuhan sebelum kita menyadarinya.

Bayangkan sebuah sistem yang mengetahui bahwa seseorang biasanya membeli produk tertentu setiap tiga bulan. Sistem dapat memberikan rekomendasi sebelum konsumen mencarinya. Bagi bisnis, ini merupakan peluang besar. Namun bagi konsumen, kemampuan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kita perlu mempertahankan kendali atas keputusan kita sendiri.

Teknologi seharusnya membantu manusia membuat keputusan yang lebih baik, bukan menggantikan kemampuan manusia untuk berpikir dan menentukan pilihan. Karena itu, tantangan terbesar di era AI bukan sekadar bagaimana membuat algoritma semakin pintar. Tantangan yang jauh lebih penting adalah bagaimana memastikan kecerdasan algoritma tetap berada dalam kerangka kepentingan dan nilai-nilai manusia.

Manusia Tetap Harus Menjadi Pengambil Keputusan

Pada akhirnya, AI hanyalah teknologi yang dibangun berdasarkan data, algoritma, tujuan, dan keputusan manusia. AI dapat memberikan rekomendasi, tetapi manusia tetap harus memiliki kemampuan untuk mempertanyakan rekomendasi tersebut.

AI dapat memprediksi apa yang mungkin kita sukai, tetapi bukan berarti semua prediksi tersebut benar. AI dapat membantu menemukan produk yang sesuai kebutuhan, tetapi keputusan untuk membeli tetap seharusnya berada di tangan konsumen.

Karena itu, menjadi konsumen di era digital membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menggunakan smartphone dan media sosial. Kita membutuhkan kesadaran algoritmik kemampuan untuk memahami bahwa di balik layar terdapat sistem yang terus belajar dari perilaku kita. Mungkin sudah waktunya kita tidak lagi hanya bertanya, Mengapa iklan ini muncul di layar saya?

Tetapi mulai bertanya lebih jauh

Apa yang diketahui algoritma tentang saya?”

Mengapa konten ini direkomendasikan kepada saya?

Apakah saya benar-benar memilihnya, atau pilihan saya sedang diarahkan?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan berarti kita harus takut terhadap AI. Sebaliknya, kita perlu memahami AI agar dapat memanfaatkannya secara bijak. AI dapat menjadi alat yang sangat powerful bagi bisnis untuk memahami konsumen dan memberikan pengalaman yang lebih baik. Namun, konsumen juga harus memiliki pengetahuan yang cukup agar tidak kehilangan kendali atas keputusan mereka sendiri.  Pada akhirnya, masa depan digital bukan hanya tentang seberapa cerdas algoritma mengenal manusia.

Masa depan digital juga ditentukan oleh seberapa cerdas manusia memahami algoritma. Karena ketika algoritma mulai mengenal kita, tugas kita bukan menghindarinya.Tugas kita adalah memastikan bahwa kita tetap mengenal diri sendiri, memahami bagaimana teknologi bekerja, dan tetap menjadi pihak yang menentukan pilihan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *