Nama penulis : Irman Dwi Putra, Mahasiswa teknik informatika universitas pamulang

Top up merupakan aktifitas membeli uang virtual di dalam game. Biasanya, gamer melakukan top up agar mendapatkan barang yang diinginkan, naik level lebih cepat, hingga membuka fitur yang masih terkunci. Fitur tersebut menjadi sorotan khalayak umum akibat kasus orang tua memarahi anak akibat top up game senilai Rp. 5 jt di Kabupaten Lebak, Banten

Pertumbuhan jumlah pemain akhirnya mendorong adanya pengembangan fitur baru seperti Multi-Player (game yang dapat dimainkan oleh banyak pemain). Beberapa game seperti Minecraft, Mobile Legends, League of Legends: Wild Rift, serta Free Fire merupakan beberapa game yang menggunakan fitur tersebut. Dari sekian banyak game yang dapat diunduh di Google Playstore dan juga Apple App Store, Free Fire menjadi salah satu game yang paling banyak dimainkan di Indonesia.

Sangat miris apa yang dilakukan anak terhadap orang tua di kabupaten Lebak ini , beberapa anak ada yang sampai memaksa untuk beli voucher game online tersebut ada yang sampai mengancam tidak mau sekolah dan ngerinya anak tersebut Igin membunuh orang tuanya , jika tidak di beri

Dari beberapa narasumber yang saya dapat, Ibu – ibu di kabupaten Lebak ini sangat resah dan geram terhadap perkembangan tersebut, pasalnya sudah banyak dirugikan materi mau pun mental terhadap si anak maupun orang tuanya dan sebagai salah satu kasus di kabupaten Lebak ini mengemparkan warga di kabupaten Lebak uang 5jt habis dalam hitungan detik oleh anaknya dibelikan voucher game online freefire di Alfamart

Menanggapi ini seharusnya orang tua melarang anaknya bermain handphone atau smartphone selagi umur masih belum siap dan cukup, apalagi sekarang perkembangan teknologi sangat cepat dan informasi bisa disalahgunakan dan disalahartikan karena dapat berpengaruh bagi kejiwaan sang anak, dan dampaknya sangat buruk

Psikis anak jadi cemas, gampang tersinggung, karena kurang tidur, emosi mudah terpancing, konsentrasi terganggu. Kalau adiksinya tidak diatasi bisa mengganggu fungsi kognitif, kecanduan terhadap game yang tidak teratasi bisa mengganggu fungsi otak, seperti fungsi eksekutif yang berpengaruh dalam proses merencanakan dan menentukan. anak yang adiksi terhadap game dan memainkannya setiap hari juga bisa berpengaruh pada interaksi sosialnya yang memburuk.

Keterampilan sosialnya bisa berkurang karena sering bermain game online. Anak bisa menjadi egosentris, individualistik, dan nantinya akan kesulitan bekerja bersama dalam kelompok.

game online juga bisa berpengaruh pada kesehatan fisik. Anak yang sering bermain game biasanya akan merasakan sakit pada pergelangan tangan, pegal-pegal pada tulang punggung dan leher, dan tentunya sangat berpengaruh pada kesehatan mata.

Note : Penulis bertanggung jawab atas semua isi tulisannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.