Nama Penulis: Uliyatunisa, S.Kom., M.Kom.

Kita sering membahas AI sebagai mesin penghasil kode atau sebagai alat kerja. Namun, AI telah menjadi jauh lebih meluas di luar tempat kerja dan ruang kelas; kini AI menjadi kurator utama interaksi kita, persepsi kita tentang dunia luar, dan bahkan perasaan kesepian. Kita sekarang “hidup” dengan AI, bukan hanya sekadar memanfaatkan teknologi, dan dampaknya pada struktur sosial kita jauh lebih mendalam daripada yang kita antisipasi.

AI media sosial dimaksudkan untuk membuat kita merasa nyaman, bukan untuk memberikan kebijaksanaan. Algoritma yang digunakan oleh sistem pemberi rekomendasi memetakan selera kita dan kemudian menunjukkan kepada kita hal-hal yang mengkonfirmasi pendapat kita yang sudah ada sebelumnya. Hasilnya? Ruang gema yang semakin padat. Polarisasi yang tajam adalah dampak sosialnya. Kemampuan kita untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang memiliki keyakinan berbeda secara bertahap terkikis ketika AI hanya menawarkan sudut pandang yang “menyenangkan” untuk kita dengar. Masyarakat sekarang terdiri dari kelompok-kelompok kecil yang tenang, bukan lagi sekumpulan individu yang suka berdebat.

Teman Virtual versus Teman Digital dan Koneksi Manusia

Meningkatnya penggunaan pendamping AI chatbot personal yang berpura-pura menjadi teman atau pasangan adalah salah satu tren yang paling menggelikan. Bagi orang yang kesepian, AI menyediakan “tempat berlindung” yang sangat simpatik, selalu tersedia, dan tidak menghakimi. Masalah mendasar di sini adalah bahwa koneksi manusia membutuhkan “gesekan.” Kematangan emosional mencakup konflik, miskomunikasi, dan kompromi. Karena AI berpusat pada pengguna, ia menghilangkan “gesekan” ini. Akibatnya, kita berisiko menghasilkan generasi yang terampil dalam berkomunikasi.

Teknologi hanya mereplikasi informasi yang kita berikan; ia tidak memiliki niat jahat. Keputusan kita dalam menggunakan teknologi tersebut akan terlihat dari bagaimana kehidupan sosial kita menjadi terpecah belah, kesepian, dan hambar. Menjadi konsumen AI yang sadar, alih-alih mengabaikannya, adalah kunci untuk hidup di zaman sekarang ini. Kita perlu secara sadar mencari sudut pandang non-algoritma, mematikan layar untuk komunikasi tatap muka tanpa perantara, dan terus belajar bagaimana menulis dan berbicara dari hati nurani kita sendiri daripada hanya menyalin dan menempel dari gelar sarjana. Meskipun AI adalah alat yang ampuh, ia tidak akan pernah sepenuhnya mampu menggantikan kompleksitas komunikasi tatap muka atau kehangatan pelukan. Kehidupan sosial kita seharusnya tidak didikte oleh algoritma.

Foto Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *