Penulis : Trifosa Reinhard Suprapto, Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Pamulang

Seiring berkembangnya teknologi, manusia dengan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki mengembangkan ilmu yang disebut dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Salah satu lingkup utama dalam kecerdasan buatan adalah expert system atau sistem pakar[1].

Expert system berusaha mengadopsi pengetahuan manusia ke komputer yang dirancang untuk memodelkan kemampuan menyelesaikan masalah seperti layaknya seorang pakar. Expert system menggunakan pengetahuan, fakta, dan teknik penalaran untuk menyelesaikan masalah yang biasanya hanya dapat dilakukan oleh seorang pakar[2].

Pemanfaatan expert system salah satunya adalah dalam bidang kesehatan atau kedokteran. Implementasinya dapat berupa diagnosis penyakit, status kesehatan, konsultasi kesehatan atau pencarian solusi berdasarkan hasil diagnosis[3].

Pada masa sekarang masyarakat awam masih sering mengalami kesulitan untuk mendiagnosis jenis penyakit karena keterbatasan pengetahuan yang mereka miliki. Oleh sebab itu, diperlukan suatu aplikasi sistem yang dapat menampung pengetahuan dari seorang pakar dan dapat mendiagnosis suatu jenis penyakit serta tindakan yang dapat dilakukan untuk menanggulanginya[4].

Gambar 1. Kecerdasan buatan dalam mendiagnosis penyakit

Selain untuk mendiagnosis penyakit, expert system juga dapat mendiagnosis kesehatan mental. Memadukan teknologi informasi dan psikologi dapat mempermudah pakar dalam menjalankan tugasnya dan masyarakat juga lebih mudah dalam memenuhi kebutuhanya terkait dengan permasalahan psikologi[5].

Beberapa penelitian terdahulu mengenai expert system gangguan mental diantaranya oleh Avan Firlando pada tahun 2015 menghasilkan expert system untuk mengetahui kepribadian mental seseorang tetapi belum dilengkapi dengan adanya peringatan dalam mengatasi human error. Tahun 2016 Hidayatih Khoiroh menghasilkan expert system untuk diagnose awal gangguan psikologis pada anak dan pada tahun 2017 Fransiskus Panca Juniawan menghasilkan expert system diagnosis gangguan kejiwaan yang masih terbatas pada 3 (tiga) jenis penyakit[6].

Dengan begitu, dapat dilihat bahwa kecerdasan buatan dapat membantu manusia baik dalam bidang kesehatan fisik maupun mental. Banyaknya orang yang membutuhkan pakar kesehatan dan terbatasnya jumlah pakar kesehatan yang ada membuat banyak orang kesulitan untuk mendiagnosis penyakit-penyakit yang mereka alami. Dengan semakin banyaknya expert system, hal tersebut akan menjadi lebih mudah dan tidak memakan biaya yang besar.

Sumber gambar 1 : https://www.europeanpharmaceuticalreview.com/news/79303/artificial-intelligence-ai-lung-disease-diagnosis-accuracy/

Referensi :

  • Chandra, S., Yunus, Y., & Sumijan, S. (2020). Sistem Pakar Menggunakan Metode Certainty Factor untuk Estetika Kulit Wanita dalam Menjaga Kesehatan. Jurnal Informasi Dan Teknologi. https://doi.org/10.37034/jidt.v2i4.70
  • Wati, E. F., Siregar, M. H., & Kurniawati, N. I. (2018). Expert System Diagnosa Penyakit Paru Pada Anak Dengan Metode Forward Chaining. Journal of Information, 2(2).
  • Novita Anggraini Putri, A. S. P. (2017). Sistem Pakar Untuk Menentukan Status Kesehatan Ibu Hamil Dengan Metode Inferensi Fuzzy ( Sugeno ). Jurnal Teknologi, 10(1).
  • Ukkas, M. I., Palupi, S., & Pradiba, I. (2018). SISTEM PAKAR DIAGNOSA JENIS-JENIS PENYAKIT DEMAM PANAS PADA BALITA DENGAN MENGGUNAKAN METODE FUZZY LOGIC BERBASIS WEB. Sebatik, 12(1). https://doi.org/10.46984/sebatik.v12i1.66
  • Wijaya, J. D., & Yunus, Y. (2020). Sistem Pakar untuk Mengukur Tingkat Akurasi Dalam Mengidentifikasi Kepribadian Menggunaakan Metode Forward Chaining. Jurnal Informasi Dan Teknologi. https://doi.org/10.37034/jidt.v3i1.99
  • Ariestya, W. W., Praptiningsih, Y. E., & Kasfi, M. (2021). SISTEM PAKAR DIAGNOSA KESEHATAN MENTAL. JIKI (Jurnal Llmu Komputer & Lnformatika), 2(1). https://doi.org/10.24127/jiki.v2i1.1096

Note : Penulis bertanggung jawab atas semua isi tulisannya

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *