Nama Penulis : Ali Azun, Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Pamulang

Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan teknologi mempercepat proses terjadinya inovasi di berbagai bidang seperti inovasi teknologi di bidang kesehatan seperti artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.
Artificial intelligence adalah cabang ilmu komputer yang ditujukan untuk “menyerupai” manusia, baik dari segi pengetahuan, kapasitas belajar, maupun jalan pikir manusia.
Peran artificial intelligence di bidang kesehatan saat ini memiliki potensi pengembangan yang sangat luas, di antaranya untuk melakukan diagnosis dan rekomendasi obat untuk pasien gangguan kardiometabolik.
Gangguan kardiometabolik merupakan penyebab utama kematian dini di seluruh dunia. Penyakit ini banyak ditemukan pada penderita hipertensi, diabetes mellitus tipe II, dan pasien obesitas yang berkontribusi besar pada meningkatnya biaya perawatan kesehatan.
Penanganan terhadap penderita gangguan kardiometabolik dapat dilakukan dengan dua cara. Yaitu dengan modifikasi gaya hidup sehat dan terapi obat.
Pengobatan dengan modifikasi gaya hidup yaitu dengan mempertahankan berat badan tetap ideal, diet rendah garam, menjaga pola makan yang mengandung lemak jenuh, makan buah dan sayuran, mengurangi rokok dan alkohol, serta meningkatkan aktivitas fisik dengan rutin berolahraga.
Selain dengan memodifikasi gaya hidup sehat, penderita gangguan kardiometabolik juga dapat menggunakan pendekatan melalui obat-obatan.
Penggunaan obat pada penderita gangguan kardiometabolik yang kurang tepat dapat menimbulkan keluhan (efek samping) seperti demam, diare, diabetes, gagal ginjal, stres, bernapas melalui mulut, kelainan saraf, radiasi pada daerah leher dan kepala serta gangguan lokal pada kelenjar saliva.
Data menunjukkan sebanyak 770 ribu pasien meninggal akibat efek samping obat. Selain efek samping, kesalahan obat juga berakibat pada lamanya proses penyembuhan dan biaya yang dikeluarkan
Pemilihan obat untuk penderita gangguan kardiometabolik yang benar-benar sesuai, tepat dosis, dan tepat frekuensi merupakan masalah kompleks yang membutuhkan pemahaman dan pengetahuan tentang farmakologis.
Oleh karena itu, peran AI diperlukan untuk membantu para tenaga medis. Basis pengetahuan AI dapat dikembangkan dengan melibatkan dokter dan indikasi obat.
Dengan adanya basis pengetahuan kesesuaian obat, obat yang direkomendasikan akan sesuai dengan kondisi kesehatan pasien sehingga pasien akan menerima obat yang sesuai.
Adanya AI dalam bidang medis dapat membantu berbagai pihak, seperti bagi dokter memudahkan dalam merekomendasikan jenis obat, tepat kombinasi, tepat dosis dan tepat frekuensi.
Bagi pasien, pemberian obat yang tepat dapat mempercepat proses penyembuhan dan mengurangi biaya pengobatan.
Bagi pihak rumah sakit, penerapan AI mampu memberikan pelayanan terbaik kepada pasien sehingga meningkatkan kualitas layanan dan daya tarik kepada masyarakat dan mengurangi biaya ganti rugi akibat kesalahan pemberian obat.

Note : Penulis bertanggung jawab atas semua isi tulisannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.